LAN Mengutamakan Konektivitas Dalam Area Lokal
Ethernet dan Wi-Fi umum digunakan dalam LAN. Switch meneruskan frame antar perangkat pada jaringan lokal, sementara router diperlukan untuk berpindah ke subnet atau jaringan lain. Karena infrastruktur berada dalam lingkungan yang relatif terkendali, LAN dapat menawarkan throughput tinggi dan latency rendah dibanding link jarak jauh. Transfer file lokal tidak harus melewati ISP sehingga tetap dapat berjalan ketika internet sedang terganggu.
Pada LAN, broadcast dan multicast tertentu dapat menjangkau banyak perangkat dalam satu domain. Jika jaringan terlalu besar, traffic kontrol dan manajemen menjadi lebih sulit. Segmentasi dengan VLAN atau subnet membantu membatasi domain tersebut dan memudahkan penerapan kebijakan keamanan.
LAN juga dapat menggunakan link 1 GbE, 2.5 GbE, 10 GbE, atau kecepatan lain sesuai perangkat. Kecepatan port tidak sama dengan throughput aplikasi karena protocol overhead, storage, CPU, dan kualitas kabel dapat membatasi hasil. Meski demikian, LAN lokal biasanya memiliki latency lebih rendah dibanding koneksi antar kota atau negara.
WAN Menghubungkan Lokasi Yang Tidak Berada Dalam Satu LAN
WAN dapat menggunakan fiber operator, MPLS, broadband internet, koneksi seluler, satellite, VPN, atau kombinasi beberapa link. Organisasi menggunakan WAN untuk menghubungkan kantor, data center, cloud, dan user remote. Karena jalur melewati infrastruktur yang lebih luas, latency, bandwidth, SLA, biaya, dan redundancy menjadi pertimbangan penting yang berbeda dari desain LAN sederhana.
Istilah WAN tidak selalu berarti internet publik. Private WAN dapat menggunakan jaringan operator yang tidak dapat diakses langsung oleh internet umum. Sebaliknya, internet dapat menjadi transport untuk VPN yang membangun overlay privat di atas jaringan publik. Karena itu, WAN menjelaskan hubungan antar lokasi, bukan satu teknologi tertentu.
Pada WAN, provider dapat menawarkan SLA yang menjelaskan target availability, latency, atau waktu penanganan gangguan. Broadband konsumen biasanya memiliki komitmen berbeda dari koneksi bisnis dedicated. Karena itu, membandingkan WAN hanya berdasarkan angka Mbps dapat mengabaikan reliability dan support yang dibutuhkan organisasi.
VLAN Dan Subnet Membantu Membagi LAN Secara Logis
Satu infrastruktur fisik dapat dibagi menjadi beberapa VLAN agar perangkat berada dalam broadcast domain yang berbeda. Routing diperlukan agar VLAN yang berbeda dapat berkomunikasi. Subnet juga membantu pengelolaan alamat dan policy. Segmentasi sering dipakai untuk memisahkan user, server, guest, IoT, atau fungsi organisasi agar traffic dan kontrol akses lebih mudah diatur.
Inter-VLAN routing dapat dilakukan oleh router atau Layer 3 switch. Access control list dan firewall kemudian dapat membatasi komunikasi antar segmen. Segmentasi tanpa policy masih memungkinkan traffic berpindah jika routing dibuka, sehingga desain keamanan perlu mempertimbangkan siapa yang benar-benar membutuhkan akses antar jaringan.
VLAN tag sendiri tidak mengenkripsi traffic. VLAN digunakan untuk segmentasi logis pada jaringan Ethernet, sedangkan firewall atau encryption menangani tujuan keamanan yang berbeda. Menganggap VLAN sebagai perlindungan penuh dapat menghasilkan desain yang terlalu permisif pada inter-VLAN routing.
VPN Dan Redundansi Membantu Menghubungkan Lokasi Dengan Aman
Site-to-site VPN dapat membuat tunnel terenkripsi antara dua jaringan melalui internet, sedangkan remote-access VPN menghubungkan user individual ke jaringan tertentu. Untuk layanan penting, organisasi dapat menggunakan lebih dari satu link WAN agar satu kegagalan tidak memutus seluruh koneksi. Redundansi menambah biaya dan kompleksitas, sehingga desain sebaiknya menyesuaikan dampak downtime dan kebutuhan bisnis.
Routing dinamis, SD-WAN, atau policy-based routing dapat digunakan pada jaringan yang memiliki banyak lokasi atau link. Teknologi tersebut membantu memilih jalur dan merespons perubahan kondisi, tetapi tidak menghapus kebutuhan memahami dasar subnet, gateway, latency, dan kapasitas masing-masing koneksi.
Redundansi juga perlu diuji secara berkala. Memiliki dua koneksi ISP tidak cukup jika keduanya memakai jalur fisik yang sama dan gagal bersamaan. Failover routing, DNS, power, dan perangkat gateway perlu diuji agar jalur cadangan benar-benar dapat mengambil alih saat dibutuhkan.





